<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sekeping Cerita</title>
	<atom:link href="http://kotaknony.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kotaknony.wordpress.com</link>
	<description>Secangkir teh, sepotong kue dan sekeping cerita...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 25 Dec 2010 16:30:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kotaknony.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sekeping Cerita</title>
		<link>http://kotaknony.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kotaknony.wordpress.com/osd.xml" title="Sekeping Cerita" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kotaknony.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tentang Menulis</title>
		<link>http://kotaknony.wordpress.com/2010/11/09/tentang-menulis/</link>
		<comments>http://kotaknony.wordpress.com/2010/11/09/tentang-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 09:31:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nony</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotaknony.wordpress.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Banyak yang bilang, orang yang suka baca pasti senang juga&#8230; menulis. Seperti yang sudah saya ceritakan juga sebelumnya bahwa katagori kutubuku saya masuk (mungkin) skala 5,5 (sekarang turun ke level 1,2). Jadi skala menulis nya pun (mungkin) masuk skala 5,5 atau kurang juga dari itu hehehe&#8230; Sebenarnya itu cuma pemisalan saja, skala yang saya buat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kotaknony.wordpress.com&amp;blog=10185269&amp;post=99&amp;subd=kotaknony&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak yang bilang, orang yang suka baca pasti senang juga&#8230; menulis. Seperti yang sudah saya ceritakan juga sebelumnya bahwa katagori kutubuku saya masuk (mungkin) skala 5,5 (sekarang turun ke level 1,2).  Jadi skala menulis nya pun (mungkin) masuk skala 5,5 atau kurang juga dari itu hehehe&#8230;</p>
<div id="attachment_116" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://kotaknony.files.wordpress.com/2010/11/pc020771.jpg"><img class="size-medium wp-image-116" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://kotaknony.files.wordpress.com/2010/11/pc020771.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">The Books2</p></div>
<p>Sebenarnya itu cuma pemisalan saja, skala yang saya buat sendiri hanya untuk perumpamaan. Intinya saya masih dalam tahap belajar. Dan yang saya tulis pun (ternyata) tidak jauh-jauh dari yang saya baca yaitu fiksi. Saya punya banyak imajinasi tetapi belum bisa sinkron dengan kemampuan menulis. Rasa2nya (dan pernah) saya coba buat novel. Tapi capek ya, sepertinya belum sampai ke pertengahan cerita, saya sudah buat lagi yang baru. Tapi tidak pernah kunjung selesai juga.</p>
<p>Akhirnya saya buat cerpen. Tapi rupanya kebanyakan nasibnya sama juga dengan niat saya bikin novel. Banyak yang gantung di tengah cerita ataupun tidak selesai. Huaahh&#8230;. ini saya memang sebetulnya sedang kumat isengnya. Tapi&#8230; ada beberapa yang akhirnya selesai juga ceritanya. The End. Titik.</p>
<p>Salah satunya (or beberapa tepatnya) adalah yang saya posting disini sebelumnya. Tapi saya akui, sebetulnya itu adalah tulisan2 saya zaman baheula. Karena iseng pernah dikirimkan ke majalah dan dimuat hehe bener loh dimuat. Judulnya Malam Mencekam Bareng Maya. Itupun pake nama lain.</p>
<p>Tambah tua malah tambah males juga bikin tulisan (a.k.a cerpen). Dan bukannya bikin tulisan baru, saya malah aduk-aduk file saya zaman dulu, found it, lalu saya coba posting disini.</p>
<p>Membaca cerpen-cerpen saya kembali kadang juga bikin saya tertawa. Saya pernah bikin cerpen tentang vampir Indonesia (hahahaha&#8230;let&#8217;s laugh with me now, it&#8217;s okay and it looks like I against &#8220;Edward Cullen&#8221;, Stephenie Meyer about the vampire version). Cerita yang lain? Sudahlah jangan dulu dibahas yah <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Moral ceritanya adalah bahwa saya sedang dalam tahap belajar menulis tetapi saya tidak ngotot harus bisa. Selama saya masih enjoy, iseng, dan tidak bosan, saya akan coba menulis. Masalah tulisan saya amburadul, gantung, tidak masuk akal, dll, believe me it&#8217;s all about taste and mood hehehe&#8230;</p>
<p>Lagipula saya memang harus berusaha  menyajikan sekeping cerita di &#8220;Sekeping Cerita&#8221; ini bukan?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kotaknony.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kotaknony.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kotaknony.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kotaknony.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kotaknony.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kotaknony.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kotaknony.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kotaknony.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kotaknony.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kotaknony.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kotaknony.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kotaknony.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kotaknony.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kotaknony.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kotaknony.wordpress.com&amp;blog=10185269&amp;post=99&amp;subd=kotaknony&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotaknony.wordpress.com/2010/11/09/tentang-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6b9823ef80ba33e698a119c880b54f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nony</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kotaknony.files.wordpress.com/2010/11/pc020771.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malam Mencekam Bareng Maya</title>
		<link>http://kotaknony.wordpress.com/2010/11/09/malam-mencekam-bareng-maya/</link>
		<comments>http://kotaknony.wordpress.com/2010/11/09/malam-mencekam-bareng-maya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 06:17:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nony</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotaknony.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Dino memusatkan pandangannya pada jalanan di depan. Ia mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Jalan ini sulit dilalui, pikirnya. Untungnya tidak terlalu gelap, karena bulan sedang bersinar penuh. Bulan purnama. Seberkas cahayanya memantulkan sinar yang kemilau dari kaca depan mobil. Di sebelah Dino duduk Maya. Gadis cantik itu diam. Ia sengaja memberikan kesempatan kepada Dino untuk memusatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kotaknony.wordpress.com&amp;blog=10185269&amp;post=88&amp;subd=kotaknony&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dino memusatkan pandangannya pada jalanan di depan. Ia mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Jalan ini sulit dilalui, pikirnya. Untungnya tidak terlalu gelap, karena bulan sedang bersinar penuh. Bulan purnama. Seberkas cahayanya memantulkan sinar yang kemilau dari kaca depan mobil.</p>
<p>Di sebelah Dino duduk Maya. Gadis cantik itu diam. Ia sengaja memberikan kesempatan kepada Dino untuk memusatkan perhatian pada jalan di depannya. Maya menangkupkan tangan di depan dadanya dan tersenyum. Ia merasa senang karena Dino mau mengantarkannya pulang ke vila. Namun ia merasa sedikit kasihan ketika melihat keringat Dino bercucuran. Padahal udara di luar sangat dingin. Memang sulit sekali mengendarai mobil di jalan yang terjal dan berkelok-kelok seperti ini. Apalagi malam-malam. Namun apa boleh buat, itulah yang harus dilakukan Dino jika ia memang benar-benar menyukai Maya. Maya melihat keluar. Sebenarnya malam ini indah sekali.</p>
<p>&#8220;Bagus ya?&#8221; tanya Dino tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Apanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bulan, benar-benar terang. Sepertinya malam ini kita beruntung.&#8221;</p>
<p>Maya mengangguk setuju. Aku juga, pikirnya. Aku juga!</p>
<p>&#8220;Siapa nama adikmu yang kau ceritakan tadi Maya? Sebentar, Tedi, em.. bukan, oh ya, Todi. Tadi kamu bilang bahwa kamu sekeluarga sering menghabiskan waktu di vila itu gara-gara Todi. Memangnya Todi kenapa?&#8221;<span id="more-88"></span></p>
<p>Jalanan yang dilalui mobil nerpenumpang dua orang itu kemudian tiba-tiba menyempit dan tiba di persimpangan.</p>
<p>&#8220;Belok kiri!&#8221; perintah Maya. Ia lupa bahwa jalan ini akan bercabang. Ia melirik Dino sekilas. Maya tahu Dino agak kesal karena harus berbelok tiba-tiba. Dan Maya harus melakukan sesuatu untuk membesarkan hatinya. Maya lalu mengambil tisu, dan dengan gerakan yang lembut tapi cekatan ia mengelap dahi, pipi, dan tengkuk Dino. Dino merasa darahnya berdesir. Ia menoleh kepada Maya lalu tersenyum. Gadis di sampingnya ini benar-benar jelita. Kulitnya yang putih terlihat sedikit pucat di bawah siraman cahaya bulan. Wajahnya mengingatkan Dino pada cerita Aphrodite, dewi kecantikan. Dan Dino paling suka melihat Maya tertawa. Ketika Maya tertawa dan memamerkan sederetan giginya yang putih, ada sensasi tersendiri dalam hatinya. Dino tahu sejak pertama kali melihat Maya, ia telah jatuh cinta. Tambahan lagi sikap Maya yang periang tapi agak misterius membuatnya penasaran.</p>
<p>&#8220;Mau minum?&#8221; tawar Maya kemudian. Dino mengangguk. Maya lalu mengambil sekaleng coke, membukanya, lalu meminumkannya kepada Dino dengan hati-hati. Benar-benar gadis yang baik dan penuh perhatian, pikirnya. Jadi selama ini ia memang agak salah menilai Maya. Ia mengira semua gadis yang dikenalnya di diskotik tempat ia menghabiskan waktu malamnya bukanlah gadis baik-baik. Tapi sejujurnya ia tidak terlalu peduli. Maya telah mengambil hatinya. Ia sangat menyukai gadis itu. Ia tidak pernah setertarik itu kepada seorang gadis sebelumnya.</p>
<p>Dino lalu melirik jam yang tertera di <em>dashboard.</em> Pukul 23:15. Berarti sudah 3 jam lebih perjalanan yang mereka tempuh. Belum terlalu malam, pikirnya. Ya, kalau saja ini masih berada di daerah perkotaan memang belum terlalu malam. Tapi jalan yang mereka lalui sekarang sejak meninggalkan jalan utama satu jam yang lalu mirip daerah pedesaan, nyaris hutan. Pohon-pohon berderet di kedua sisi jalan yang rusak dan berbatu-batu membentuk bayangan gelap yang kelihatan sedang berlari zig zag, berpacu dengan laju mobil. Sementara itu bulan pucat yang berwarna keperakan masih melayang-layang di atas langit yang kelabu. Dino mendesah. Masih berapa lama lagikah mereka akan sampai di vila Maya? Ataukah jangan-jangan mereka tersesat? Tapi menurut penuturan gadis itu, Ia sering datang ke vilanya. Tambahan lagi Maya bersikap begitu tenang. Jadi tidak mungkin jika mereka tersesat.</p>
<p>&#8220;Jadi, siapa yang ada di vilamu saat ini Maya? tanya Dino memecah kesunyian. Ia tidak menyukai keheningan seperti ini. Maya agak pendiam malam ini. Tidak seperti biasanya. Pasti ada yang dipikirkan Maya saat ini. Wajahnya menunjukkan hal itu.</p>
<p>&#8220;Kosong, kalau malam kosong,&#8221; jawab Maya.</p>
<p>Dino mengangguk-angguk lalu mendehem, &#8220;Ehm apakah jaraknya masih jauh Maya?&#8221; tanyanya ragu. Maya menggeleng kuat-kuat. &#8220;Sebentar lagi.&#8221; Maya menatap Dino resah, &#8220;Capek ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, lumayan.&#8221; Dino tertawa. Tapi sesungguhnya tangan dan kakinya terasa pegal. Maya mengetahui hal itu. Sebentar lagi, sebentar lagi, Dino, ucapnya dalam hati. Pandangan Maya kemudian tertuju pada sebuah kotak berisi coklat yang ada di hadapannya. Dino melihat pandangan itu.</p>
<p>&#8220;Lapar?&#8221; tanyanya. Sementara perutnya sendiri mulai berkeruyuk. &#8220;Kenapa tidak makan coklat saja?&#8221; Maya hanya terpaku menekuri cokalt itu. Dino tertawa. &#8220;Oh, aku tau. Diet ya? Takut gemuk?&#8221;</p>
<p>Maya menggeleng. Coklat! Tiba-tiba saja Maya teringat pada Todi. Adik dan saudara laki-laki satu-satunya itu sangat menyukai coklat. Tapi itu dulu. Sebelum kejadian itu. Maya mengerjap-ngerjapkan matanya. Kadang-kadang ia menyesal mengapa keluarganya harus ditimpa kemalangan seperti itu. Tapi mereka tentunya tidak mempunyai pilihan.</p>
<p>&#8220;Todi seorang maniak coklat. Tapi sekarang tidak lagi, sejak diketahui ia mempunyai penyakit.&#8221;</p>
<p>Benar dugaanku! Pikir Dino. Maya sedang ada masalah. Todi sakit. Jadi itu sebabnya. Adiknya sakit. &#8220;Penyakit apa?&#8221; tanyanya. Dino merasa heran pada dirinya sendiri. Biasanya ia tidak pernah peduli tentang segala sesuatu yang tidak menyangkut dirinya. Tapi sekarang ia telah merasa menjadi bagian dari Maya. Masalah gadis itu akan menjadi masalahnya. Astaga! Rupanya ia telah benar-benar jatuh cinta pada gadis itu Pikiran itu membuat dirinya senang. Ia sebenarnya sudah lelah berpetualang. Apa yang akan dikatakan oleh teman-temannya nanti mengenai hal ini?</p>
<p>&#8220;Katakan Maya, apa penyakit yang diderita oleh adikmu?&#8221;</p>
<p>Maya kelihatan segan menceritakannya. &#8220;Aku tidak tahu,&#8221; jawabnya. Suaranya terdengar sedih. Dino jadi heran. Ia melirik Maya. Mata gadis itu berkaca-kaca. Seberapa seriuskah sakit Todi?</p>
<p>&#8220;Jangan cerita kalau kamu tidak mau.&#8221;</p>
<p>Maya menggeleng. &#8220;Tidak, aku harus menceritakannya. Kupikir kamu perlu tahu. Lagipula tidak apa-apa kok, Kamu pasti tidak akan mempercayai ceritaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;O ya?&#8221; tanya Dino heran. Matanya mengerling jenaka. &#8220;Then, try me.&#8221;</p>
<p>Maya tersenyum. &#8220;Baiklah!&#8221; Ia menghela nafas.</p>
<p>&#8220;Segala-galanya dimulai sejak tahun lalu,&#8221; kata Maya mulai bercerita. Pandangannya menerawang. &#8220;Seperti yang kuceritakan dulu, Todi sejak masih SMP ikut tanteku di Belgia. Ia sekolah disana. Aku dan Todi hanya berbeda setahun. Kami sangat dekat. Ia menceritakan segala-gala nya kepadaku. Termasuk gadis-gadisnya. Keluarga kami sangat dekat. Begitulah, keluargaku bisa dibilang normal dan harmonis. Dan aku hidup sangat bahagia di tengah-tengahnya.&#8221; Maya menghela nafasnya lagi. Ia kelihatan berat untuk melanjutkan ceritanya.</p>
<p>Dino lalu menggenggam tangan Maya. Tangan itu begitu halus dan dingin seperti bola salju. Dino takut ketika ia mengusap-usapnya, tangan itu akan mencair. Gadis ini ternyata benar-benar lembut. Hati maupun fisiknya.</p>
<p>&#8220;Lalu,&#8221; Maya melanjutkan ceritanya, &#8220;Segalanya berubah sejak setahun yang lalu. Suatu malam Todi tiba di depan rumah dalam keadaan yang payah. Tante dan Om ku yang mengantarkannya. Todi sakit. Mereka sudah membawanya ke dokter, tapi keadaan Todi semakin parah. Mereka takut terjadi sesuatu pada Todi, sehingga mereka akhirnya mengantarkannya pulang. Aku bersyukur Todi masih bisa pulang. Kata mereka Todi sakit setelah pulang dari tur keliling Eropa yang diikutinya beberapa minggu yang lalu. Penyakit Todi aneh. Ia sering demam dan mengigau tentang aku dan orangtuaku. Aku tidak percaya akan cerita Om dan Tanteku. Todi tidak pernah sakit. Setidaknya ia tidak punya penyakit yang serius. Tetapi setelah aku melihat sendiri keadaan Todi, aku kemudian percaya bahwa Todi memang menderita suatu penyakit. Entah apa. Kupikir ia kecanduan obat? Dokter yang memeriksanya tidak menemukan penyakit apa-apa. Hanya demam, katanya. Ia malah menyarankan untuk membawa Todi ke psikiater. Huh! Enak saja, pikirku waktu itu. Adikku tidak gila. Tetapi kemudian aku menjadi sangsi.&#8221;</p>
<p>Udara kemudian terasa lebih dingin. Beberapa butir embun menempel di kaca.</p>
<p>&#8220;Aku menangis diam-diam. Keadaan Todi makin payah. Aku tahu ia sangat menderita. Ia hanya terbaring di tempat tidur seharian. Badannya lemas. Meskipun siang, kamar Todi tidak pernah dibuka jendela maupun tirainya. Todi akan berteriak-teriak jika kulakukan hal itu. Katanya matanya merasa silau jika terkena sinar matahari. Malamnya Todi demam tinggi dan mengigau. Ia sulit tidur dan sering bermimpi buruk. Aku menduga-duga bahwa sakitnya Todi ini karena ia ikut tur itu. Apakah yang terjadi padanya selama itu? Aku tidak tahu.</p>
<p>&#8220;Keadaan itu berlangsung selama berhari-hari. Seperti mimpi buruk. Orangtuaku sudah berusaha untuk mengobati Todi kesana kemari. Suatu malam aku menemukan tempat tidur Todi kosong. Aku mencari kemana-mana tapi Todi sama sekali tidak bisa kutemukan. Aku nyaris putus asa, dan bersama orangtuaku , kami nyaris menghubungi polisi. Esoknya kutemukan Todi sudah terbaring lagi di kamarnya yang gelap. Waktu itu aku sudah tidak tahan lagi. Kubuka jendela kamarnya. Kupikir Todi haurs mendapatkan cahaya matahari sedikit. Wajahnya benar-benar putih dan pucat. Tapi kemudian aku merasa ngeri melihat apa yang terjadi. Todi berteriak-teriak histeris. Sinar matahari yang menerobos celah jendela ternyata benar-benar membakarnya. Membakar tangannya. Kulitnya mengelupas.&#8221; Badan Maya menggigil membayangkan kejadian itu.</p>
<p>&#8220;Mungkinkah karena kanker kulit?&#8221; tanya Dino kemudian. Ia pernah mendengar ada beberapa penderita kanker kulit yang parah tidak tahan terhadap sinar matahari. Tapi mungkinkah bisa separah itu?</p>
<p>&#8220;Semula aku menduga begitu. Tapi kemudian aku merasa aneh. Sejak Todi menghilang dari kamarnya malam itu, burung cucakrawa piaraan ayahku hilang. Sore harinya aku menemukan burung itu mati di halaman belakang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho apa hubungannya?&#8221; tanya Dino heran. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba perasaannya menjadi aneh. Bulan yang menggantung di langit semakin pucat saja kelihatannya.</p>
<p>&#8220;Burung itu mati kehabisan darah!&#8221; kata Maya ngeri. &#8220;Aku menghubung-hubungkan kejadian itu dengan kelakukan Todi. Apakah Todi yang melakukan semua itu?&#8221; tanyanya pelan hampir tidak terdengar. Dino tertawa.</p>
<p>&#8220;Imajinasimu boleh juga. Tapi untuk apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lapar, karena lapar. Kasihan sekali Todi tidak pernah menyentuh makanan. Aku tahu Todi selalu memuntahkan makanannya. Sejak burung itu mati, Todi kelihatan sedikit segar. Dan kemudian aku menemukan lagi satu keanehan pada dirinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221; tanya Dino penasaran. Cerita gadis ini semakin menarik. Daya khayalnya tinggi. Dadanya jadi berdebar-debar.</p>
<p>&#8220;Aku hafal sekali lekuk muka adikku. Dan ia berbeda. Maksudku ada sesuatu yang berbeda pada dirinya sekarang. Pertamanya aku tidak tahu apa. Tapi kemudian ketika ia menyeringai, kulihat gigi taringnya agak panjang dari biasanya.&#8221;</p>
<p>Dino mengernyitkan alisnya. Bukankah itu turunan? Pikirnya. Gigi taring Maya juga agak panjang. Dan itulah yang membuatnya menarik. Dino tersenyum.</p>
<p>&#8220;Sudahlah,&#8221; kata Maya kemudian setelah melihat senyuman Dino. &#8220;Sudah kuduga kamu tidak akan percaya padaku.&#8221; Maya merajuk. Dino tidak tahu harus berbuat apa. Gadis ini ternyata mempunyai selera humor yang cukup aneh. Tiba-tiba dari kejauhan Dino melihat cahaya. Mungkinkah itu cahaya lampu yang berasal dari sebuah rumah?</p>
<p>&#8220;Lihat itu Dino!&#8221; tunjuk Maya. &#8220;Kita hampir sampai. Itu vilaku. Indah, ya?&#8221;</p>
<p>Dino mengangguk. Ya, bangunannya indah meskipun agak samar, berwarna abu-abu keperakan disinari cahaya bulan. Cahaya lampu berkerlap kerlip di sekelilingnya. Dari kejauhan vila itu memang kelihatan kecil, terlindung dari balik pepohonan. Dino tidak tahu mengapa tiba-tiba suasana di sekitarnya kemudian terasa mencekam. Suara angin mendesau-desau di sekelilingnya.</p>
<p>&#8220;Oh ya, apakah kamu pernah menceritakan kecurigaanmu tentang Todi pada orangtuamu?&#8221; pancing Dino kembali. Ia mencoba mengalihkan perasaannya.</p>
<p>&#8220;Tentu saja tidak. Mereka tidak akan percaya. Orangtuaku membawa Todi ke vila. Mereka pikir Todi akan lebih baik di sana. Namun ternyata mereka salah.&#8221; Maya meremas-remas tangannya. Ia kelihatan gelisah. &#8220;Dua minggu mereka di tempat itu menemani Todi. Aku sendiri kembali ke rumah. Lalu suatu malam, orangtuaku menelepon. Aku disuruhnya ke vila malam itu juga. Katanya keadaan Todi sudah membaik dan ia ingin bertemu denganku. Tapi aku curiga. Ya, suasananya seperti malam ini juga. Bulan bersinar terang, dan aku mengemudikan mobilku dengan kencang.</p>
<p>&#8220;Lalu aku menemukan mereka. Papa, Mama, juga Todi. Rupanya mereka telah menungguku. Dan aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Mereka memang orangtua dan adikku, tetapi mereka aneh sekali waktu itu. Mereka memandangku lekat-lekat. Mengurungku seakan-akan aku hendak kabur dari situ. Wajah mereka dingin seperti mayat. Ya, seperti mayat. Lalu Todi mendekatiku. Aku diam terpaku di tempatku.&#8221;</p>
<p>Segumpal awan melayang melewati bulan. Bulan gelap tapi kemudian terang kembali. Ada keganjilan pada cerita Maya. Dino berpikir keras. Ia merasa takut. Tapi&#8230; yang benar saja, pikirnya. Karena cerita Maya? Gadis ini pasti sedang bercanda.</p>
<p>&#8220;Aku kemudian menjerit ketika Todi mencengkeram leherku dan membuka mulutnya. Aku melihat gigi taringnya benar-benar panjang, runcing, dan berkilat. Air liur menetes-netes dari mulutnya. Aku sangat ketakutan. Kutendang Todi. Aku berhasil melepaskan diri dari cengkeramannya. Lalu aku berlari keluar dari vila itu. Aku berlari dan terus berlari menerobos hutan dengan hati yang terluka. Orang-orang yang kusayangi telah menjadi monster. Monster haus darah. Vampir, pikirku. Mereka telah menjadi vampir.&#8221;</p>
<p>Sekeliling mereka sunyi. Sama sekali tidak terdengar suara binatang malam. Yang terdengar hanya bunyi mesin mobil. Kabut tipis menyelimuti. Bulu kuduk Dino meremang dan jantungnya berdebar kencang.</p>
<p>&#8220;Lalu, bagaimana kamu bisa selamat Maya?&#8221; tanyanya. Suaranya seperti orang yang tercekik. Butir-butir keringat mengalir di keningnya.</p>
<p>Maya menggeleng. &#8220;Kupikir aku harus kembali ke tempat itu. Mereka keluargaku.&#8221;</p>
<p>Gerbang vila itu tinggal beberapa meter di depannya. Tapi Dino menghentikan mobilnya. Ia takut. Selama hidupnya belum pernah ia merasa setakut ini. Dino menoleh kepada Maya. Gadis itu menatapnya juga. Cahaya bulan menerobos kabut menyinari kulitnya yang semakin pucat. Entah kenapa Maya memandang sedih kepadanya.</p>
<p>Tetapi kemudian Maya tersenyum. Senyumnya semakian melebar, memperlihatkan gigi taringnya yang panjang, runcing, dan berkilat-kilat seperti mata pisau. Dino menjerit tapi suaranya sama sekali tidak terdengar.</p>
<p>&#8220;Maafkan aku, Dino, tapi aku lapar sekali.&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kotaknony.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kotaknony.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kotaknony.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kotaknony.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kotaknony.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kotaknony.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kotaknony.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kotaknony.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kotaknony.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kotaknony.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kotaknony.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kotaknony.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kotaknony.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kotaknony.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kotaknony.wordpress.com&amp;blog=10185269&amp;post=88&amp;subd=kotaknony&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotaknony.wordpress.com/2010/11/09/malam-mencekam-bareng-maya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6b9823ef80ba33e698a119c880b54f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nony</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DONGENG ANAK ITIK</title>
		<link>http://kotaknony.wordpress.com/2009/12/11/dongeng-anak-itik/</link>
		<comments>http://kotaknony.wordpress.com/2009/12/11/dongeng-anak-itik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 09:52:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nony</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotaknony.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Aha, Cyril sedang sangat tidak senang. Ia membanting pintu sekeras mungkin membuat Cyara, adik Cyril menutup telinganya. Ia baru saja menerima telepon dari cowoknya. Cyara berpikir, apa lagi yang dilakukan Evan sekarang? Berselingkuh atau lupa lagi ulang tahun Cyril? Cyril baru saja berulangtahun ke delapan belas. Cyril mengatakan kepada Cyara bahwa usia delapan belas berarti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kotaknony.wordpress.com&amp;blog=10185269&amp;post=63&amp;subd=kotaknony&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aha, Cyril sedang sangat tidak senang. Ia membanting pintu sekeras mungkin membuat Cyara, adik Cyril menutup telinganya. Ia baru saja menerima telepon dari cowoknya. Cyara berpikir, apa lagi yang dilakukan Evan sekarang? Berselingkuh atau lupa lagi ulang tahun Cyril?</p>
<p>Cyril baru saja berulangtahun ke delapan belas. Cyril mengatakan kepada Cyara bahwa usia delapan belas berarti kebebasan, dan Cyara mengerutkan keningnya, bukankah Cyril sudah mendapatkan kebebasan itu sejak dulu?<br />
“Oh, bukan seperti itu,” bantah Cyril. “Itu artinya aku benar-benar bebas dengan kehidupanku sekarang.”<br />
Di wajahnya terlukis kebahagiaan,<br />
“Aku sama sekali tidak harus minta ijin untuk melakukan apapun kepada Papa dan Mama. Aku dan mereka sekarang adalah sama-sama seorang yang dewasa. Aku tidak perlu lagi tergantung kepada mereka untuk memutuskan sesuatu., dan mereka tidak boleh mencampuri urusanku. Sama sekali tidak!” lanjut Cyril berapi-api.</p>
<p>Cyara mengerutkan keningnya lagi. Mungkin yang dimaksud Cyril dengan tidak tergantung adalah tidak termasuk urusan finansial. Buktinya Cyril menuntut uang dalam jumlah yang sangat besar sebagai hadiah ulang tahunnya untuk memuaskan gaya hidup dan kebutuhan nya yang ‘selalu saja tidak pernah cukup’. <span id="more-63"></span></p>
<p>Ayah dan ibunya lebih-lebih membuat kening Cyara berkerut.<br />
“Yaa, hari ini ulang tahunmu kan Cyril? Setiap detik kamu selalu mengingatkan aku, jadi kamu mau hadiah apa sayang?”<br />
Itu kata ibunya, tak sabar. Ia harus bergegas menuju bandara. Ada penerbangan yang harus ia tempuh sebentar lagi. Jadi yang pasti ia akan berada di rumah lagi kira-kira seminggu kemudian (mungkin). Cyril pernah memelototinya ketika Cyara protes untuk Mamanya.<br />
“Konyol Cyara,” bentak Cyril, “Dan klise. Seolah semuanya akan baik jika Mama sering di rumah. Kehidupan kita sekarang harus ada konsekuensinya. Dan menurutku itu sebanding.”</p>
<p>Dan Papanya lebih ajaib lagi. Kadang-kadang dua atau tiga bulan Cyara baru bisa bertemu dengannya lagi.<br />
“Selamat,” katanya ketika ia kebetulan pulang pada hari ulang tahun Cyril. “Kamu masih ingin tinggal disini atau ingin Papa pilihkan apartemen?”</p>
<p>Oo… Cyril tidak akan mau. Ia tidak akan terlayani seperti di rumah. Lagipula selama ini Cyril sering tidak pulang. Ia sudah punya tempat tersendiri di luar. Mungkin itu tempatnya Evan, Cyara tidak tahu.</p>
<p>Lalu Cyara menjadi bingung ketika pada hari ulang tahunnya yang keenam belas dan ia memberitahu ibunya bahwa ia berulang tahun, ibunya bertanya apakah Cyara menginginkan sesuatu.<br />
Cyara menggeleng, menjawab, ”Tidak tahu.”<br />
Segalanya ada. Apa lagi yang ia butuhkan?<br />
Hal itu membuat ibunya menjadi marah, “Lalu untuk apa kamu beritahu aku?” bentaknya. “Kenapa sih kamu tidak seperti kakak-kakakmu?”</p>
<p>Ya, itu menjadi pertanyaan juga untuk Cyara. Kenapa ia tidak seperti kakak-kakaknya. Berulangkali Cyril mengatakan bahwa ia aneh dan tidak masuk akal.</p>
<p>“Sok suci,” kata Kris, kakak tertuanya suatu kali kepadanya. Kris sering berurusan dengan polisi gara-gara narkoba ataupun perkelahian di luar batas. Tetapi Kris kebal hukum karena semua orang sepertinya memandang ayahnya, dan para penegak hukum itu bisa berbalik menjadi teman Kris.<br />
“Semua wajar dan sudah tersistem, entah kamu ini naïf atau goblok jadi kamu tidak bisa paham itu semua,” kata Kris datar.</p>
<p>Dan tidak hanya di rumah, di sekolah pun Cyara dianggap aneh.<br />
“Masa sih kamu tidak mau mencontek Cyara?” tanya Prita teman sebangkunya. Sering sekali ia bertanya tentang hal itu setiap kali mereka mendapat ulangan.<br />
“Itu curang kan?”<br />
Prita benar-benar jengkel pada Cyara.</p>
<p>Cyara adalah satu-satunya anak yang tidak menyumbang untuk Pak Sutejo agar nilai Fisikanya bisa dapat angka tujuh, dan ia bukan termasuk kelompok manapun di sekolahnya yang selalu saling gencet dan menjatuhkan.</p>
<p>Ia salah satu siswi yang tidak mau diajak “jalan” oleh Oom-oom seumuran ayahnya seperti yang diceritakan Mira seolah-olah hal itu adalah hal biasa juga.</p>
<p>Suatu kali Cyara menangis dan merasa dadanya sakit ketika pulang sekolah harus melewati perkampungan kumuh.<br />
“Jangan cengeng Cyara, kita tidak mungkin disebut berada kalau tidak ada mereka.” Itu komentar Cyril. Ia melemparkan pandangan menghina pada mereka dan pandang tak suka pada Cyara.</p>
<p>Tidak ada yang menyukai Cyara, baik keluarganya maupun teman-teman sekolahnya. Bahkan guru-guru di sekolahnya menganggap ia anak yang terlalu muluk-muluk dan mengada-ada. Bahkan ia sering dianggap tidak ada.<br />
Cyara sedih. Pernah ia membaca tentang dongeng seekor anak itik yang tersesat di tengah-tengah kumpulan angsa. Mungkin ia adalah anak itik itu. Apa yang salah pada dirinya? Semakin hari ia semakin merasa sedih dan sengsara.</p>
<p>Menjelang ulang tahunnya yang ketujuh belas, Cyara sering merasa sakit di seluruh badannya. Perasaannya pun menjadi lebih peka. Kesedihan dan penderitaan orang lain bisa menjadi miliknya. Tidak ada yang tahu. Ia terkucil dari semua orang.</p>
<p>Lalu ia menjual semua barang berharga pemberian ibunya. Uang yang ia kumpulkan dari hasil penjualan itu ia belikan sembako lalu ia bagikan kepada orang-orang yang tinggal di perkampungan kumuh. Namun apa yang terjadi? Orang-orang itu menjadi sangat liar dan terlihat sanggup membunuh tetangganya sendiri hanya untuk mendapat lebih banyak bagian.</p>
<p>Perasaan Cyara menjadi lebih sakit. Karena tak tahan, Cyara menceritakan hal itu kepada ibunya yang kebetulan sedang berada di rumah. Ibunya mulai menangis histeris dan menjerit marah,<br />
“Yang kamu lakukan itu perbuatan goblok! Masuk kamar dan jangan keluar sebelum kusuruh. Aku tidak tahu aku ini melahirkan anak apa.”</p>
<p>Sakit di badannya semakin menjadi-jadi. Kini punggung Cyara sakit. Rasanya seperti ada sesuatu yang akan melesak, ingin keluar dari tubuhnya. Ia menelungkup di tempat tidurnya, merasakan nyeri yang tak kunjung reda. Kepalanya seperti diputar-putar dan Cyara seolah-olah melihat adegan ketika ia baru dilahirkan. Ketika ia bersama keluarganya. Cyara di sekolah, di perkampungan kumuh….</p>
<p>Punggungnya semakin sakit tak tertahankan. Rasa dingin membekukan menjalari seluruh tubuhnya. Lalu pukul 24.00 tepat, usianya tujuh belas sekarang.<br />
Sesuatu mencuat dari punggungnya, bersamaan dengan munculnya kehangatan yang merambati kakinya. Mula-mula kecil, lama-lama semakin besar dan mengembang membentuk sayap. Setelah terbentuk sempurna, tiba-tiba seluruh rasa sakit yang dideritanya hilang. Berganti kebahagiaan, rasa suka cita. Tidak ada kekhawatiran lagi.</p>
<p>“Oh!” serunya ketika tubuhnya mulai terangkat. Sayapnya terkepak dan perlahan ia mulai meninggalkan segala yang ada di bawahnya sampai semuanya mengecil. Lalu ia bertemu dengan teman-temannya. Yang punya sayap sepertinya, yang peka dan punya kasih sayang begitu besar dalam dirinya.<br />
Tahulah ia siapa dirinya. Anak itik yang tersesat, persis dalam dongeng itu. Tak mungkin ia salah satu diantara mereka yang begitu jahat, tamak, kotor dan tidak punya hati Nurani.</p>
<p>“Ayo Cyara,” seru seseorang diantara mereka, tersenyum. “Apa yang membuatmu tertahan begitu lama?”</p>
<p>Cyara tertawa bahagia dan melesat lebih tinggi menyusul kawanannya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kotaknony.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kotaknony.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kotaknony.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kotaknony.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kotaknony.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kotaknony.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kotaknony.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kotaknony.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kotaknony.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kotaknony.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kotaknony.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kotaknony.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kotaknony.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kotaknony.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kotaknony.wordpress.com&amp;blog=10185269&amp;post=63&amp;subd=kotaknony&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotaknony.wordpress.com/2009/12/11/dongeng-anak-itik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6b9823ef80ba33e698a119c880b54f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nony</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NYANYI SUNYI</title>
		<link>http://kotaknony.wordpress.com/2009/11/26/nyanyi-sunyi/</link>
		<comments>http://kotaknony.wordpress.com/2009/11/26/nyanyi-sunyi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 10:24:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nony</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotaknony.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Bagian I Sialnya aku mencintainya. Pada mahluk yang setengah hati, setengah jiwa dan setengah pikirannya berada bersamaku, sedangkan sisanya mengembara ke suatu tempat yang tidak mungkin bisa kusambangi. Jika aku bertanya dengan naluri keperempuananku apakah dia mencintaiku, maka ia akan menjawab Ya. Dengan naluri pula aku menebak ia berbohong. Matanya tidak berbicara padaku. Dan aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kotaknony.wordpress.com&amp;blog=10185269&amp;post=48&amp;subd=kotaknony&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bagian I</strong></p>
<p>Sialnya aku mencintainya. Pada mahluk yang setengah hati, setengah jiwa dan setengah pikirannya berada bersamaku, sedangkan sisanya mengembara ke suatu tempat yang tidak mungkin bisa kusambangi. Jika aku bertanya dengan naluri keperempuananku apakah dia mencintaiku, maka ia akan menjawab <em>Ya</em>. Dengan naluri pula aku menebak ia berbohong. Matanya tidak berbicara padaku. Dan aku kembali melayang-layang di udara. Merasa tidak berbobot dan berjiwa.</p>
<p>Sudah empat tahun lewat empat bulan aku bersamanya. Mengarungi kehidupan bersamanya seperti melesak ke sebuah lubang gelap yang aku tidak pernah bertemu muka dengan dasarnya. Hanya karena tanganku masih menggapai-gapai di permukaannya. Masih meminta pengharapan dan menginginkan perubahan. <em>Aku milikmu bukan? </em>Seperti yang sering ia katakan di media massa. <em>Apakah kamu mencintaiku? </em>(lagi dan lagi).  <em>Mengapa kamu perlakukan aku seperti aku ini tidak ada?<span id="more-48"></span></em></p>
<p>Aku lebih baik menelan muntahanku sendiri dibanding melontarkan pertanyaan penuh tuntutan seperti itu. Tapi aku berhak mengajukannya bukan? Aku berhak! Sehingga kemudian dengan berurai air mata selalu kutanyakan hal itu setiap kesempatan itu ada. Namun ia tidak tersentuh. Beku. Dan kebekuan itu tidak tercairkan meski dengan kukatakan, <em>Aku mencintaimu, kamu tahu itu kan? </em>Pertama dengan volume yang teramat pelan kemudian berubah menjadi teriakan. Teriakan putus asa yang aku tahu akan berujung pada keletihan luar biasa.</p>
<p>Selalu kuketuk pintunya. Mengingatkannya bahwa ada sepotong jiwa yang ingin meringkuk di dasar hatinya ingin terlindungi.<em> Jariku sudah terluka sayang. </em>Sudah kukeluarkan segenap tenagaku tapi ia masih saja tertutup rapat. Aku ingin pulang, aku ingin pergi,  aku ingin hilang. Jalinan kata itu tertahan di tenggorokanku tanpa aku punya kemampuan untuk menyemburkannya.</p>
<p>Hanya karena sorot matanya yang mampu membuat seluruh tubuhku gemetar meneriakkan cita-cita kebahagiaan. Hanya karena setitik cahaya yang terkadang ia tebarkan sehingga seolah-olah akan menarik tanganku keluar dari kehampaan. Hanya karena aku takut akan kehilangan esensinya.</p>
<p><strong>Bagian II</strong></p>
<p>Kemudian aku telah bertemu dengan batas toleransiku. Sehingga kuputuskan untuk mengikuti aliran air pada garis nasib di tanganku mulai hari ini. Aku telah mencapai puncak keletihanku sehingga aku tersenyum pada dunia. Dunianya. Dengan aku bak boneka selama ini berada di sampingnya dengan penuh kerelaan. Kerlip lampu dan berondongan pertanyaan bagaikan desingan peluru yang memenuhi otakku hanya dengan satu tekad. Aku ingin terbebaskan!</p>
<p>Dan pagi itu merambat seperti jalinan tumbuhan yang mengharap membubung ke angkasa.  Aku ikut merentangkan tanganku sampai kemudian kehangatan matahari mengaliri jari tanganku. <em>Aku masih ingin merasakan kehangatan itu di ujung jariku sayang&#8230; </em>Itu sebabnya aku mengepak semua barang-barangku. Hanya milikku. Akan kukepakkan sayap agar bisa kukendalikan diriku seutuhnya, bukan menjadi bayangannya. Pun jika aku mati.</p>
<p>Aku ingin pulang, aku ingin pergi, aku ingin hilang. Tak pernah kusemburkan kata-kata itu padanya, tapi aku melakukannya.</p>
<p><strong>Bagian III</strong></p>
<p>Satu tahun lewat dua bulan. Senja berwarna teramat kemerahan sehingga aku melindungi kedua mataku dari pusara yang menaungi tubuh tempatnya terbaring. Tak ada air mata untuknya. Hanya ada rasa dingin yang menghinggapi setiap sel dan pori di sekujur badanku seolah aku ikut merasakan kebekuannya. Sekarang dunianya menjadikan aku tertuduhnya. Baru kutahu ia teramat menderita dan kesepian ketika aku pergi dari kehidupannya. <em>Rasa ketergantungan eh? </em>Gelombang kelesuan merasuki kehidupannya dan karirnya berada di jurang kehancuran. Aku membaca koran pagi. Ia membubuhkan arsenik pada sarapan paginya!</p>
<p>Sudah berulang kali kukatakan padanya bahwa aku hanya ingin diperlakukan dengan baik dan semestinya. Semestinya orang yang saling mencintai. Aku hanya ingin seperti itu saja. Itu tidak akan terlalu sulit baginya kan? Iya kan? <em>Semuanya sudah terlambat sayang&#8230;.</em></p>
<p>Nyanyi sunyi mengalir lalu mengambang di udara. Tapi aku mendengarnya. Aku tahu mereka akan hinggap di punggungku sekarang. Dan mereka tak akan hilang sampai aku membeku di duniaku.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kotaknony.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kotaknony.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kotaknony.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kotaknony.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kotaknony.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kotaknony.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kotaknony.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kotaknony.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kotaknony.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kotaknony.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kotaknony.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kotaknony.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kotaknony.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kotaknony.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kotaknony.wordpress.com&amp;blog=10185269&amp;post=48&amp;subd=kotaknony&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotaknony.wordpress.com/2009/11/26/nyanyi-sunyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6b9823ef80ba33e698a119c880b54f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nony</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Buku</title>
		<link>http://kotaknony.wordpress.com/2009/11/05/tentang-buku/</link>
		<comments>http://kotaknony.wordpress.com/2009/11/05/tentang-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 10:28:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nony</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotaknony.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Saya suka baca buku (tertentu). Apabila ada golongan kutubuku yang memakai skala 1-10, mungkin saya masuk ke golongan angka 5,5. Intinya belum bisa dikatagorikan kutubuku sejati, cuma mungkin agak lebih sedikit sering baca dibandingkan dengan orang yang jarang atau tidak pernah membaca. Itupun buku-buku yang pernah saya baca kebanyakan hanya buku-buku fiksi semacam novel, komik, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kotaknony.wordpress.com&amp;blog=10185269&amp;post=8&amp;subd=kotaknony&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><a href="http://kotaknony.files.wordpress.com/2009/11/pc020770.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-111" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://kotaknony.files.wordpress.com/2009/11/pc020770.jpg?w=300&#038;h=225" alt="The Books" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align:left;">Saya suka baca buku (tertentu). Apabila ada golongan kutubuku yang memakai skala 1-10, mungkin saya masuk ke golongan angka 5,5. Intinya belum bisa dikatagorikan kutubuku sejati, cuma mungkin agak lebih sedikit sering baca dibandingkan dengan orang yang jarang atau tidak pernah membaca.</p>
<p>Itupun buku-buku yang pernah saya baca kebanyakan hanya buku-buku fiksi semacam novel, komik, dll dengan katagori rata-rata sangat ringan, ringan dan menengah. Malahan seiring bertambahnya usia dan sempitnya waktu (alasan <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ) novel-novel yang saya baca malah masuk katagori sangat ringan.</p>
<p>Contohnya chiklit (oops asli ini novel tidak usah pake mikir bacanya, mengalir saja tapi enak buat hiburan).</p>
<p>Dan berikut adalah beberapa buku yang pernah saya baca, saya suka,  sekedar sharing saja, dan mungkin bisa dijadikan pilihan : <span id="more-8"></span></p>
<p><strong>1. To Kill a Mockingbird</strong></p>
<p>Satu-satunya karya dari Harper Lee. Buku yang menjadi masterpiece dan cetak ulang beberapa kali. Sudah pernah di filmkan juga di tahun 60-an. Gaya bahasa, karakteristik yang kuat tetapi wajar dan kesederhanaan cara penuturan dan pandangan dari seorang bocah perempuan berusia 6 tahunan, Scout Finch yang menjadi tokoh sentral dalam buku ini membuat saya terhanyut dalam cerita yang mengangkat tema rasisme yang bersetting di Maycomb, Alabama tahun 1930 an. Saya juga suka dan &#8220;cinta&#8221; karakter dari tokoh Atticus Finch.</p>
<p><strong>2. Harry Potter series (1 &#8211; 7) &#8211; J.K. Rowling</strong></p>
<p>Rata-rata semuanya sudah tahu penyihir berkacamata bulat ini bukan?</p>
<p><strong>3. Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) karangan Pramoedya Ananta Toer</strong></p>
<p>Tidak usah diceritakan bagaimana luar biasanya buku-buku ini. Membuat resensi atau sinopsisnya saja saya belum sanggup. Saya hanya bisa menyebutkan beberapa kata dari novel ini : Minke, Nyai Ontosoroh, Perjuangan, dan Nasionalisme</p>
<p><strong>4. Ella Enchanted &#8211; Gail Carson Levine</strong></p>
<p>Saya suka dongeng. Sampai SMP saja saya masih didongengi oleh ayah saya. Dongengnya terakhir2 yang saya ingat adalah cerita silat Kho Ping Hoo yang pernah ayah saya baca sampai akhirnya saya ikutan baca2 buku silat itu juga. Tapi dongeng tentang Bawang Merah Bawang Putih, Nawang Wulan dan Jaka Tarub, Legenda Tangkuban Perahu, dll sudah saya tamatkan sebelum itu. Entah dari sekolah, ayah atau ibu saya, tv, atau dari buku2 yang saya baca.</p>
<p><a href="http://kotaknony.files.wordpress.com/2009/11/pc020779.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-114" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://kotaknony.files.wordpress.com/2009/11/pc020779.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Ella Enchanted" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Nah, buku ini juga sebetulnya buku dongeng dari legenda luar yaitu Cinderella. Tapi jangan dibayangkan Cinderella seperti yang digambarkan selama ini. Ini karya modifikasi dan &#8220;pelurusan&#8221; cerita yang ada versi dari Gail Carson Levine, sang pengarang. Disini Ella (dari nama aslinya Elleanor), adalah anak perempuan pemberani, agak bandel, ceroboh, dan kikuk yang kebetulan kena kutukan peri menjadi anak yang patuh sejak lahir. Intinya siapapun, dengan kalimat perintah langsung, bisa menyuruh Ella melakukan apapun, yang paling berbahaya sekalipun. Kutukan itu malah membuat Ella menjadi tangguh dan ia berpetualang mencari peri yang mengutuknya supaya mencabut kutukan tersebut dari dirinya. Dalam perjalanannya, Ella yang ahli bahasa menjalin banyak persahabatan dengan elf, jembalang, raksasa, dan berusaha untuk tidak dimakan ogre, mahluk pemakan manusia. Bahkan ia akhirnya menjalin persahabatan yang manis dengan Pangeran pewaris Kyrria, negeri tempat Ella tinggal. Kisah ini bisa ditebak akhirnya. Hepi ending tetapi dengan cara yang lebih manis dan hehe&#8230; masuk akal. Padahal ini dongeng lhoooo.. Novel ini pernah difilmkan dengan pemeran Anne Hathaway, tapi sama sekali saya tidak suka versi layar lebarnya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>5. Sang Pemimipi &#8211; Buku kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata</strong></p>
<p>Ini adalah buku yang paling berkesan buat saya diantara keempat buku Laskar Pelangi.  Gaya bahasa yang (menurut saya) agak berlebihan dalam buku pertama, sudah mulai berkurang di buku ini. Membaca buku ini membuat saya tertawa apalagi mengingat satu episode ketika para tokoh dalam cerita ini sedang beranjak dewasa dan dengan instingnya ingin mengetahui hal-hal yang &#8220;berbau&#8221; dewasa.</p>
<p><strong>6. Janissary Tree &#8211; Jason Goodwin</strong></p>
<p>Bagi yang suka novel detektif seperti saya ; Sherlock Holmes-Sir Arthur Conan Doyle, Poirot- Agatha Christie, dll mungkin buku ini bisa dijadikan pilihan. Berlatar belakang kesultanan Turki Ottoman yang diperintah Sultan Mahmud II pada abad ke-19, seorang kasim (pelayan sultan yang dikebiri) investigator bernama Yashim Togalu, dipanggil Sultan dikarenakan ada selir yang terbunuh di area Sultan. Selanjutnya pembunuhan berlanjut kepada anggota dari Pasukan Garda Baru bentukan Sultan. Kecurigaan bertumpu pada pasukan Yenicheri, sebuah pasukan bentukan Sultan Murad I pada abad ke -14. Pasukan Yenicheri yang setelah terlibat dalam berbagai perang dan menaklukan berbagai wilayah termasuk Konstantinopel, kemudian malah menjadi sumber kericuhan dan keresahan bagi rakyat karena sering menjarah dan semena-mena. Bahkan saking susahnya diberantas, pasukan ini berhasil membunuh salah seorang sultan yang menentang pasukan tersebut. Barulah Pasukan Yenicheri bisa dimusnahkan oleh Pasukan Garda Baru bentukan sultan sepuluh tahun sebelum setting cerita ini.</p>
<p>Novel ini menarik karena unik, misterius, berbau politik, dan eksotik, mengingat deskripsi tentang Turki pada abad ke-19 ; pemandian umum Istanbul, Istana Topkapi, makanan khas Turki, masjid-masjid, dll. Jika Sherlock Holmes punya Dr. Watson, maka Yashim punya Pawleski, seorang duta besar Polandia untuk Turki Usmani.</p>
<p>Kabarnya tokoh Yashim berlanjut pada novel Goodwin berikutnya : The Snake Stone dan The Bellini Card (2 novel ini belum saya baca).</p>
<p><strong>7. Gadis Pantai &#8211; Pramoedya Ananta Toer</strong></p>
<p>Sedih hati saya ketika membaca buku ini. Kaum wanita pada zaman itu sepertinya sama sekali tidak ada harganya. Hanya menjadi barang dagangan yang bila sudah tidak laku menjadi selir seorang priyayi, dikembalikan lagi kepada orang tuanya dalam keadaan remuk redam dan harus berpisah dengan darah dagingnya sendiri. Infonya Pram menulis ini dari nasib yang dialami oleh neneknya sendiril. Infonya lagi seharusnya masih ada kelanjutan dari cerita ini tetapi naskahnya keburu hilang (dibakar?). Sayang sekali &#8230;.</p>
<p><strong>8. Devil Wears Prada &#8211; Lauren Weisberger</strong></p>
<p>Yaaa&#8230; yaa&#8230; Ini adalah chicklit. Sebut icon mode dunia, dan di dalamnya ada Manolo Blahnik, Channel, Donna Karan, Louboutin and of course ladies : Prada. Semuanya terangkum pada kisah Andrea Sachs yang baru lulus kuliah dan berpenampilan sederhana langsung menempati posisi sebagai asisten editor majalah mode Runway. Editornya bernama Miranda Priestley. Bisa dibayangkan ketika ia harus berhadapan dengan para karyawan dan model-model majalah yang cantik, langsing, bermerk, dan tentu saja jarang makan. Tetapi itu belum seberapa dibandingkan harus berhadapan dengan editornya sendiri. Uniknya, pada kenyataannya banyak yang berpendapat bahwa sosok Miranda yang perfeksionis, dingin, kejam, destruktif dan senang mengintimidasi dalam novel, sesungguhnya adalah penggambaran dari sosok editor majalah Vogue, Anna Wintour. Kebetulan penulisnya sendiri pernah menjadi asisiten editor majalah Vogue tersebut meskipun ia membantah bahwa Miranda Priestley adalah Anna Wintour. Bahkan kabarnya karakter &#8220;Devil&#8221; Anna Wintour malah pernah dijadikan karakter dalam film2 Hollywood. Contohnya sosok Edna Mode dalam the Incredible atau penampilan Willy Wonka &#8211; Johnny Depp di The Chocolate Factory.</p>
<p>Oya novel ini sudah pernah difilmkan dengan judul yang sama dengan pemeran utama Anne Hathaway. Menurut saya karakter Miranda Priestley yang diperankan Meryl Streep sedikit agak diperhalus dibanding dengan novelnya.</p>
<p><strong>9. Mr. Monk Goes to the Firehouse &#8211; Lee Goldberg</strong></p>
<p>Saya suka buku detektif ini karena selain karakter Mr. Monk yang unik, buku ini adalah buku satu-satunya yang &#8220;my hubby&#8221; baca sampai halaman terakhir, horeee&#8230;. Saya pernah bertanya-tanya adakah orang dengan karakter seperti ini? Lucu, jenius, egois, menyedihkan, sekaligus menyebalkan? Mr. Monk dikenal dengan penyakit psikologisnya yang disebut Obsesive Compulsive.  Tapi jutru dengan &#8220;penyakit&#8221; nya itulah Mr. Monk berhasil memecahkan berbagai kasus pembunuhan dimana polisi sudah angkat tangan. Pada kenyataannya, penyakit Obsesive Compulsive ini <em>mungkin </em>pernah saya jumpai gejalanya pada seseorang yang saya kenal dekat. &#8220;Beliau&#8221; bisa bolak-balik ke kamar mandi setelah mandi hanya untuk memastikan kakinya tidak lagi terciprat air terakhir.</p>
<p>Saya juga penggemar serial televisi Mr. Monk yang diperankan Tony Shalhoub. Karakter Mr. Monk menurut saya pas sekali diperankan oleh aktor tsb. &#8220;It&#8217;s a jungle out there&#8230;&#8221;</p>
<p><strong>10. Twilight &#8211; Stephenie Meyer</strong></p>
<p>Cerita cinta tentang vampir dan manusia. Ahhh.. it&#8217;s a guilty pleasure! Lanjutan dari buku ini adalah New Moon, Eclipse, dan Breaking Dawn (3 buku terakhir buat saya sih agak membosankan..)</p>
<p>Film Twilight sudah beredar dan segera dilanjutkan dengan New Moon kalau tidak ingin membaca bukunya.</p>
<p><strong>11. Jendela Orpheus jilid 1-18 &#8211; Riyoko Ikeda</strong></p>
<p>Yap, ini adalah komik Jepang. Saya membaca komik-komik ini pada waktu saya masih kuliah sampai saya koleksi semua serinya karena penasaran dengan jalan ceritanya. Meskipun komik Jepang, tapi settingnya adalah Jerman sebelum dan sesudah PD I. Adalah Julius Alensmeier yang menjadi tokoh sentral menjalin persahabatan dan cinta segitiga dengan Klaus (aslinya Alexei) dan Isaac di sebuah sekolah musik di Jerman. Julius yang perempuan dipaksa menjadi laki-laki karena urusan perebutan warisan dalam keluarga dan pemegang kunci harta warisan keluarga Tsar Rusia. Dari mulai masalah keluarga, musik, lalu karena obsesinya pada Klaus seorang pelarian aliran Bolshevik, membawa Julius ke Rusia. Dari mulai St Petersburg sampai daratan Siberia. Tokoh-tokoh non fiksi muncul disini; Lenin, Tsar Nikolai II , Putri Anastasia, sampai Pendeta Rasputin (Raspchin). Sayangnya seperti legenda Yunani,  Orpheus dan Euridika yang kisah cintanya berujung tragedi, Julius dan Klaus pun harus mengalami nasib yang sama. Sementara Isaac yang patah hati kemudian menjadi pemain piano terkenal di Wina Austria sampai akhirnya harus balik lagi ke kampung halamannya karena tangannya mengalami cacat akibat perang.</p>
<p><strong>12. The Naked Traveler &#8211; Trinity</strong></p>
<p>Awalnya ini adalah blog tentang perjalanan dari Trinity (nama samaran) yang kemudian dibukukan. Bagi yang senang travel buku ini layak dijadikan rekomendasi. Pengalamannya melakukan perjalanan ke berbagai tempat buat saya (yang suka travel tapi punya banyak keterbatasan) sangat unik, menarik, jujur dan informatif. Sampai saat ini saya masih membaca perjalanan Trinity berikutnya lewat blog nya yang kabarnya akan diterbitkan lagi sebagai buku kedua Naked Traveler.</p>
<p>Sementara hanya buku-buku di atas yang bisa saya coba share. Untuk buku-buku selanjutnya mudah-mudahan bisa saya share lain waktu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kotaknony.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kotaknony.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kotaknony.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kotaknony.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kotaknony.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kotaknony.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kotaknony.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kotaknony.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kotaknony.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kotaknony.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kotaknony.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kotaknony.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kotaknony.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kotaknony.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kotaknony.wordpress.com&amp;blog=10185269&amp;post=8&amp;subd=kotaknony&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotaknony.wordpress.com/2009/11/05/tentang-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6b9823ef80ba33e698a119c880b54f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nony</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kotaknony.files.wordpress.com/2009/11/pc020770.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kotaknony.files.wordpress.com/2009/11/pc020779.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
