Malam Mencekam Bareng Maya
November 9, 2010
Dino memusatkan pandangannya pada jalanan di depan. Ia mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Jalan ini sulit dilalui, pikirnya. Untungnya tidak terlalu gelap, karena bulan sedang bersinar penuh. Bulan purnama. Seberkas cahayanya memantulkan sinar yang kemilau dari kaca depan mobil.
Di sebelah Dino duduk Maya. Gadis cantik itu diam. Ia sengaja memberikan kesempatan kepada Dino untuk memusatkan perhatian pada jalan di depannya. Maya menangkupkan tangan di depan dadanya dan tersenyum. Ia merasa senang karena Dino mau mengantarkannya pulang ke vila. Namun ia merasa sedikit kasihan ketika melihat keringat Dino bercucuran. Padahal udara di luar sangat dingin. Memang sulit sekali mengendarai mobil di jalan yang terjal dan berkelok-kelok seperti ini. Apalagi malam-malam. Namun apa boleh buat, itulah yang harus dilakukan Dino jika ia memang benar-benar menyukai Maya. Maya melihat keluar. Sebenarnya malam ini indah sekali.
“Bagus ya?” tanya Dino tiba-tiba.
“Apanya?”
“Bulan, benar-benar terang. Sepertinya malam ini kita beruntung.”
Maya mengangguk setuju. Aku juga, pikirnya. Aku juga!
“Siapa nama adikmu yang kau ceritakan tadi Maya? Sebentar, Tedi, em.. bukan, oh ya, Todi. Tadi kamu bilang bahwa kamu sekeluarga sering menghabiskan waktu di vila itu gara-gara Todi. Memangnya Todi kenapa?”
Jalanan yang dilalui mobil nerpenumpang dua orang itu kemudian tiba-tiba menyempit dan tiba di persimpangan.
“Belok kiri!” perintah Maya. Ia lupa bahwa jalan ini akan bercabang. Ia melirik Dino sekilas. Maya tahu Dino agak kesal karena harus berbelok tiba-tiba. Dan Maya harus melakukan sesuatu untuk membesarkan hatinya. Maya lalu mengambil tisu, dan dengan gerakan yang lembut tapi cekatan ia mengelap dahi, pipi, dan tengkuk Dino. Dino merasa darahnya berdesir. Ia menoleh kepada Maya lalu tersenyum. Gadis di sampingnya ini benar-benar jelita. Kulitnya yang putih terlihat sedikit pucat di bawah siraman cahaya bulan. Wajahnya mengingatkan Dino pada cerita Aphrodite, dewi kecantikan. Dan Dino paling suka melihat Maya tertawa. Ketika Maya tertawa dan memamerkan sederetan giginya yang putih, ada sensasi tersendiri dalam hatinya. Dino tahu sejak pertama kali melihat Maya, ia telah jatuh cinta. Tambahan lagi sikap Maya yang periang tapi agak misterius membuatnya penasaran.
“Mau minum?” tawar Maya kemudian. Dino mengangguk. Maya lalu mengambil sekaleng coke, membukanya, lalu meminumkannya kepada Dino dengan hati-hati. Benar-benar gadis yang baik dan penuh perhatian, pikirnya. Jadi selama ini ia memang agak salah menilai Maya. Ia mengira semua gadis yang dikenalnya di diskotik tempat ia menghabiskan waktu malamnya bukanlah gadis baik-baik. Tapi sejujurnya ia tidak terlalu peduli. Maya telah mengambil hatinya. Ia sangat menyukai gadis itu. Ia tidak pernah setertarik itu kepada seorang gadis sebelumnya.
Dino lalu melirik jam yang tertera di dashboard. Pukul 23:15. Berarti sudah 3 jam lebih perjalanan yang mereka tempuh. Belum terlalu malam, pikirnya. Ya, kalau saja ini masih berada di daerah perkotaan memang belum terlalu malam. Tapi jalan yang mereka lalui sekarang sejak meninggalkan jalan utama satu jam yang lalu mirip daerah pedesaan, nyaris hutan. Pohon-pohon berderet di kedua sisi jalan yang rusak dan berbatu-batu membentuk bayangan gelap yang kelihatan sedang berlari zig zag, berpacu dengan laju mobil. Sementara itu bulan pucat yang berwarna keperakan masih melayang-layang di atas langit yang kelabu. Dino mendesah. Masih berapa lama lagikah mereka akan sampai di vila Maya? Ataukah jangan-jangan mereka tersesat? Tapi menurut penuturan gadis itu, Ia sering datang ke vilanya. Tambahan lagi Maya bersikap begitu tenang. Jadi tidak mungkin jika mereka tersesat.
“Jadi, siapa yang ada di vilamu saat ini Maya? tanya Dino memecah kesunyian. Ia tidak menyukai keheningan seperti ini. Maya agak pendiam malam ini. Tidak seperti biasanya. Pasti ada yang dipikirkan Maya saat ini. Wajahnya menunjukkan hal itu.
“Kosong, kalau malam kosong,” jawab Maya.
Dino mengangguk-angguk lalu mendehem, “Ehm apakah jaraknya masih jauh Maya?” tanyanya ragu. Maya menggeleng kuat-kuat. “Sebentar lagi.” Maya menatap Dino resah, “Capek ya?”
“Ya, lumayan.” Dino tertawa. Tapi sesungguhnya tangan dan kakinya terasa pegal. Maya mengetahui hal itu. Sebentar lagi, sebentar lagi, Dino, ucapnya dalam hati. Pandangan Maya kemudian tertuju pada sebuah kotak berisi coklat yang ada di hadapannya. Dino melihat pandangan itu.
“Lapar?” tanyanya. Sementara perutnya sendiri mulai berkeruyuk. “Kenapa tidak makan coklat saja?” Maya hanya terpaku menekuri cokalt itu. Dino tertawa. “Oh, aku tau. Diet ya? Takut gemuk?”
Maya menggeleng. Coklat! Tiba-tiba saja Maya teringat pada Todi. Adik dan saudara laki-laki satu-satunya itu sangat menyukai coklat. Tapi itu dulu. Sebelum kejadian itu. Maya mengerjap-ngerjapkan matanya. Kadang-kadang ia menyesal mengapa keluarganya harus ditimpa kemalangan seperti itu. Tapi mereka tentunya tidak mempunyai pilihan.
“Todi seorang maniak coklat. Tapi sekarang tidak lagi, sejak diketahui ia mempunyai penyakit.”
Benar dugaanku! Pikir Dino. Maya sedang ada masalah. Todi sakit. Jadi itu sebabnya. Adiknya sakit. “Penyakit apa?” tanyanya. Dino merasa heran pada dirinya sendiri. Biasanya ia tidak pernah peduli tentang segala sesuatu yang tidak menyangkut dirinya. Tapi sekarang ia telah merasa menjadi bagian dari Maya. Masalah gadis itu akan menjadi masalahnya. Astaga! Rupanya ia telah benar-benar jatuh cinta pada gadis itu Pikiran itu membuat dirinya senang. Ia sebenarnya sudah lelah berpetualang. Apa yang akan dikatakan oleh teman-temannya nanti mengenai hal ini?
“Katakan Maya, apa penyakit yang diderita oleh adikmu?”
Maya kelihatan segan menceritakannya. “Aku tidak tahu,” jawabnya. Suaranya terdengar sedih. Dino jadi heran. Ia melirik Maya. Mata gadis itu berkaca-kaca. Seberapa seriuskah sakit Todi?
“Jangan cerita kalau kamu tidak mau.”
Maya menggeleng. “Tidak, aku harus menceritakannya. Kupikir kamu perlu tahu. Lagipula tidak apa-apa kok, Kamu pasti tidak akan mempercayai ceritaku.”
“O ya?” tanya Dino heran. Matanya mengerling jenaka. “Then, try me.”
Maya tersenyum. “Baiklah!” Ia menghela nafas.
“Segala-galanya dimulai sejak tahun lalu,” kata Maya mulai bercerita. Pandangannya menerawang. “Seperti yang kuceritakan dulu, Todi sejak masih SMP ikut tanteku di Belgia. Ia sekolah disana. Aku dan Todi hanya berbeda setahun. Kami sangat dekat. Ia menceritakan segala-gala nya kepadaku. Termasuk gadis-gadisnya. Keluarga kami sangat dekat. Begitulah, keluargaku bisa dibilang normal dan harmonis. Dan aku hidup sangat bahagia di tengah-tengahnya.” Maya menghela nafasnya lagi. Ia kelihatan berat untuk melanjutkan ceritanya.
Dino lalu menggenggam tangan Maya. Tangan itu begitu halus dan dingin seperti bola salju. Dino takut ketika ia mengusap-usapnya, tangan itu akan mencair. Gadis ini ternyata benar-benar lembut. Hati maupun fisiknya.
“Lalu,” Maya melanjutkan ceritanya, “Segalanya berubah sejak setahun yang lalu. Suatu malam Todi tiba di depan rumah dalam keadaan yang payah. Tante dan Om ku yang mengantarkannya. Todi sakit. Mereka sudah membawanya ke dokter, tapi keadaan Todi semakin parah. Mereka takut terjadi sesuatu pada Todi, sehingga mereka akhirnya mengantarkannya pulang. Aku bersyukur Todi masih bisa pulang. Kata mereka Todi sakit setelah pulang dari tur keliling Eropa yang diikutinya beberapa minggu yang lalu. Penyakit Todi aneh. Ia sering demam dan mengigau tentang aku dan orangtuaku. Aku tidak percaya akan cerita Om dan Tanteku. Todi tidak pernah sakit. Setidaknya ia tidak punya penyakit yang serius. Tetapi setelah aku melihat sendiri keadaan Todi, aku kemudian percaya bahwa Todi memang menderita suatu penyakit. Entah apa. Kupikir ia kecanduan obat? Dokter yang memeriksanya tidak menemukan penyakit apa-apa. Hanya demam, katanya. Ia malah menyarankan untuk membawa Todi ke psikiater. Huh! Enak saja, pikirku waktu itu. Adikku tidak gila. Tetapi kemudian aku menjadi sangsi.”
Udara kemudian terasa lebih dingin. Beberapa butir embun menempel di kaca.
“Aku menangis diam-diam. Keadaan Todi makin payah. Aku tahu ia sangat menderita. Ia hanya terbaring di tempat tidur seharian. Badannya lemas. Meskipun siang, kamar Todi tidak pernah dibuka jendela maupun tirainya. Todi akan berteriak-teriak jika kulakukan hal itu. Katanya matanya merasa silau jika terkena sinar matahari. Malamnya Todi demam tinggi dan mengigau. Ia sulit tidur dan sering bermimpi buruk. Aku menduga-duga bahwa sakitnya Todi ini karena ia ikut tur itu. Apakah yang terjadi padanya selama itu? Aku tidak tahu.
“Keadaan itu berlangsung selama berhari-hari. Seperti mimpi buruk. Orangtuaku sudah berusaha untuk mengobati Todi kesana kemari. Suatu malam aku menemukan tempat tidur Todi kosong. Aku mencari kemana-mana tapi Todi sama sekali tidak bisa kutemukan. Aku nyaris putus asa, dan bersama orangtuaku , kami nyaris menghubungi polisi. Esoknya kutemukan Todi sudah terbaring lagi di kamarnya yang gelap. Waktu itu aku sudah tidak tahan lagi. Kubuka jendela kamarnya. Kupikir Todi haurs mendapatkan cahaya matahari sedikit. Wajahnya benar-benar putih dan pucat. Tapi kemudian aku merasa ngeri melihat apa yang terjadi. Todi berteriak-teriak histeris. Sinar matahari yang menerobos celah jendela ternyata benar-benar membakarnya. Membakar tangannya. Kulitnya mengelupas.” Badan Maya menggigil membayangkan kejadian itu.
“Mungkinkah karena kanker kulit?” tanya Dino kemudian. Ia pernah mendengar ada beberapa penderita kanker kulit yang parah tidak tahan terhadap sinar matahari. Tapi mungkinkah bisa separah itu?
“Semula aku menduga begitu. Tapi kemudian aku merasa aneh. Sejak Todi menghilang dari kamarnya malam itu, burung cucakrawa piaraan ayahku hilang. Sore harinya aku menemukan burung itu mati di halaman belakang.”
“Lho apa hubungannya?” tanya Dino heran. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba perasaannya menjadi aneh. Bulan yang menggantung di langit semakin pucat saja kelihatannya.
“Burung itu mati kehabisan darah!” kata Maya ngeri. “Aku menghubung-hubungkan kejadian itu dengan kelakukan Todi. Apakah Todi yang melakukan semua itu?” tanyanya pelan hampir tidak terdengar. Dino tertawa.
“Imajinasimu boleh juga. Tapi untuk apa?”
“Lapar, karena lapar. Kasihan sekali Todi tidak pernah menyentuh makanan. Aku tahu Todi selalu memuntahkan makanannya. Sejak burung itu mati, Todi kelihatan sedikit segar. Dan kemudian aku menemukan lagi satu keanehan pada dirinya.”
“Apa?” tanya Dino penasaran. Cerita gadis ini semakin menarik. Daya khayalnya tinggi. Dadanya jadi berdebar-debar.
“Aku hafal sekali lekuk muka adikku. Dan ia berbeda. Maksudku ada sesuatu yang berbeda pada dirinya sekarang. Pertamanya aku tidak tahu apa. Tapi kemudian ketika ia menyeringai, kulihat gigi taringnya agak panjang dari biasanya.”
Dino mengernyitkan alisnya. Bukankah itu turunan? Pikirnya. Gigi taring Maya juga agak panjang. Dan itulah yang membuatnya menarik. Dino tersenyum.
“Sudahlah,” kata Maya kemudian setelah melihat senyuman Dino. “Sudah kuduga kamu tidak akan percaya padaku.” Maya merajuk. Dino tidak tahu harus berbuat apa. Gadis ini ternyata mempunyai selera humor yang cukup aneh. Tiba-tiba dari kejauhan Dino melihat cahaya. Mungkinkah itu cahaya lampu yang berasal dari sebuah rumah?
“Lihat itu Dino!” tunjuk Maya. “Kita hampir sampai. Itu vilaku. Indah, ya?”
Dino mengangguk. Ya, bangunannya indah meskipun agak samar, berwarna abu-abu keperakan disinari cahaya bulan. Cahaya lampu berkerlap kerlip di sekelilingnya. Dari kejauhan vila itu memang kelihatan kecil, terlindung dari balik pepohonan. Dino tidak tahu mengapa tiba-tiba suasana di sekitarnya kemudian terasa mencekam. Suara angin mendesau-desau di sekelilingnya.
“Oh ya, apakah kamu pernah menceritakan kecurigaanmu tentang Todi pada orangtuamu?” pancing Dino kembali. Ia mencoba mengalihkan perasaannya.
“Tentu saja tidak. Mereka tidak akan percaya. Orangtuaku membawa Todi ke vila. Mereka pikir Todi akan lebih baik di sana. Namun ternyata mereka salah.” Maya meremas-remas tangannya. Ia kelihatan gelisah. “Dua minggu mereka di tempat itu menemani Todi. Aku sendiri kembali ke rumah. Lalu suatu malam, orangtuaku menelepon. Aku disuruhnya ke vila malam itu juga. Katanya keadaan Todi sudah membaik dan ia ingin bertemu denganku. Tapi aku curiga. Ya, suasananya seperti malam ini juga. Bulan bersinar terang, dan aku mengemudikan mobilku dengan kencang.
“Lalu aku menemukan mereka. Papa, Mama, juga Todi. Rupanya mereka telah menungguku. Dan aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Mereka memang orangtua dan adikku, tetapi mereka aneh sekali waktu itu. Mereka memandangku lekat-lekat. Mengurungku seakan-akan aku hendak kabur dari situ. Wajah mereka dingin seperti mayat. Ya, seperti mayat. Lalu Todi mendekatiku. Aku diam terpaku di tempatku.”
Segumpal awan melayang melewati bulan. Bulan gelap tapi kemudian terang kembali. Ada keganjilan pada cerita Maya. Dino berpikir keras. Ia merasa takut. Tapi… yang benar saja, pikirnya. Karena cerita Maya? Gadis ini pasti sedang bercanda.
“Aku kemudian menjerit ketika Todi mencengkeram leherku dan membuka mulutnya. Aku melihat gigi taringnya benar-benar panjang, runcing, dan berkilat. Air liur menetes-netes dari mulutnya. Aku sangat ketakutan. Kutendang Todi. Aku berhasil melepaskan diri dari cengkeramannya. Lalu aku berlari keluar dari vila itu. Aku berlari dan terus berlari menerobos hutan dengan hati yang terluka. Orang-orang yang kusayangi telah menjadi monster. Monster haus darah. Vampir, pikirku. Mereka telah menjadi vampir.”
Sekeliling mereka sunyi. Sama sekali tidak terdengar suara binatang malam. Yang terdengar hanya bunyi mesin mobil. Kabut tipis menyelimuti. Bulu kuduk Dino meremang dan jantungnya berdebar kencang.
“Lalu, bagaimana kamu bisa selamat Maya?” tanyanya. Suaranya seperti orang yang tercekik. Butir-butir keringat mengalir di keningnya.
Maya menggeleng. “Kupikir aku harus kembali ke tempat itu. Mereka keluargaku.”
Gerbang vila itu tinggal beberapa meter di depannya. Tapi Dino menghentikan mobilnya. Ia takut. Selama hidupnya belum pernah ia merasa setakut ini. Dino menoleh kepada Maya. Gadis itu menatapnya juga. Cahaya bulan menerobos kabut menyinari kulitnya yang semakin pucat. Entah kenapa Maya memandang sedih kepadanya.
Tetapi kemudian Maya tersenyum. Senyumnya semakian melebar, memperlihatkan gigi taringnya yang panjang, runcing, dan berkilat-kilat seperti mata pisau. Dino menjerit tapi suaranya sama sekali tidak terdengar.
“Maafkan aku, Dino, tapi aku lapar sekali.”