Tentang Menulis
November 9, 2010
Banyak yang bilang, orang yang suka baca pasti senang juga… menulis. Seperti yang sudah saya ceritakan juga sebelumnya bahwa katagori kutubuku saya masuk (mungkin) skala 5,5 (sekarang turun ke level 1,2). Jadi skala menulis nya pun (mungkin) masuk skala 5,5 atau kurang juga dari itu hehehe…
Sebenarnya itu cuma pemisalan saja, skala yang saya buat sendiri hanya untuk perumpamaan. Intinya saya masih dalam tahap belajar. Dan yang saya tulis pun (ternyata) tidak jauh-jauh dari yang saya baca yaitu fiksi. Saya punya banyak imajinasi tetapi belum bisa sinkron dengan kemampuan menulis. Rasa2nya (dan pernah) saya coba buat novel. Tapi capek ya, sepertinya belum sampai ke pertengahan cerita, saya sudah buat lagi yang baru. Tapi tidak pernah kunjung selesai juga.
Akhirnya saya buat cerpen. Tapi rupanya kebanyakan nasibnya sama juga dengan niat saya bikin novel. Banyak yang gantung di tengah cerita ataupun tidak selesai. Huaahh…. ini saya memang sebetulnya sedang kumat isengnya. Tapi… ada beberapa yang akhirnya selesai juga ceritanya. The End. Titik.
Salah satunya (or beberapa tepatnya) adalah yang saya posting disini sebelumnya. Tapi saya akui, sebetulnya itu adalah tulisan2 saya zaman baheula. Karena iseng pernah dikirimkan ke majalah dan dimuat hehe bener loh dimuat. Judulnya Malam Mencekam Bareng Maya. Itupun pake nama lain.
Tambah tua malah tambah males juga bikin tulisan (a.k.a cerpen). Dan bukannya bikin tulisan baru, saya malah aduk-aduk file saya zaman dulu, found it, lalu saya coba posting disini.
Membaca cerpen-cerpen saya kembali kadang juga bikin saya tertawa. Saya pernah bikin cerpen tentang vampir Indonesia (hahahaha…let’s laugh with me now, it’s okay and it looks like I against “Edward Cullen”, Stephenie Meyer about the vampire version). Cerita yang lain? Sudahlah jangan dulu dibahas yah
Moral ceritanya adalah bahwa saya sedang dalam tahap belajar menulis tetapi saya tidak ngotot harus bisa. Selama saya masih enjoy, iseng, dan tidak bosan, saya akan coba menulis. Masalah tulisan saya amburadul, gantung, tidak masuk akal, dll, believe me it’s all about taste and mood hehehe…
Lagipula saya memang harus berusaha menyajikan sekeping cerita di “Sekeping Cerita” ini bukan?
Malam Mencekam Bareng Maya
November 9, 2010
Dino memusatkan pandangannya pada jalanan di depan. Ia mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Jalan ini sulit dilalui, pikirnya. Untungnya tidak terlalu gelap, karena bulan sedang bersinar penuh. Bulan purnama. Seberkas cahayanya memantulkan sinar yang kemilau dari kaca depan mobil.
Di sebelah Dino duduk Maya. Gadis cantik itu diam. Ia sengaja memberikan kesempatan kepada Dino untuk memusatkan perhatian pada jalan di depannya. Maya menangkupkan tangan di depan dadanya dan tersenyum. Ia merasa senang karena Dino mau mengantarkannya pulang ke vila. Namun ia merasa sedikit kasihan ketika melihat keringat Dino bercucuran. Padahal udara di luar sangat dingin. Memang sulit sekali mengendarai mobil di jalan yang terjal dan berkelok-kelok seperti ini. Apalagi malam-malam. Namun apa boleh buat, itulah yang harus dilakukan Dino jika ia memang benar-benar menyukai Maya. Maya melihat keluar. Sebenarnya malam ini indah sekali.
“Bagus ya?” tanya Dino tiba-tiba.
“Apanya?”
“Bulan, benar-benar terang. Sepertinya malam ini kita beruntung.”
Maya mengangguk setuju. Aku juga, pikirnya. Aku juga!
“Siapa nama adikmu yang kau ceritakan tadi Maya? Sebentar, Tedi, em.. bukan, oh ya, Todi. Tadi kamu bilang bahwa kamu sekeluarga sering menghabiskan waktu di vila itu gara-gara Todi. Memangnya Todi kenapa?” Read the rest of this entry »
