DONGENG ANAK ITIK

December 11, 2009

Aha, Cyril sedang sangat tidak senang. Ia membanting pintu sekeras mungkin membuat Cyara, adik Cyril menutup telinganya. Ia baru saja menerima telepon dari cowoknya. Cyara berpikir, apa lagi yang dilakukan Evan sekarang? Berselingkuh atau lupa lagi ulang tahun Cyril?

Cyril baru saja berulangtahun ke delapan belas. Cyril mengatakan kepada Cyara bahwa usia delapan belas berarti kebebasan, dan Cyara mengerutkan keningnya, bukankah Cyril sudah mendapatkan kebebasan itu sejak dulu?
“Oh, bukan seperti itu,” bantah Cyril. “Itu artinya aku benar-benar bebas dengan kehidupanku sekarang.”
Di wajahnya terlukis kebahagiaan,
“Aku sama sekali tidak harus minta ijin untuk melakukan apapun kepada Papa dan Mama. Aku dan mereka sekarang adalah sama-sama seorang yang dewasa. Aku tidak perlu lagi tergantung kepada mereka untuk memutuskan sesuatu., dan mereka tidak boleh mencampuri urusanku. Sama sekali tidak!” lanjut Cyril berapi-api.

Cyara mengerutkan keningnya lagi. Mungkin yang dimaksud Cyril dengan tidak tergantung adalah tidak termasuk urusan finansial. Buktinya Cyril menuntut uang dalam jumlah yang sangat besar sebagai hadiah ulang tahunnya untuk memuaskan gaya hidup dan kebutuhan nya yang ‘selalu saja tidak pernah cukup’.

Ayah dan ibunya lebih-lebih membuat kening Cyara berkerut.
“Yaa, hari ini ulang tahunmu kan Cyril? Setiap detik kamu selalu mengingatkan aku, jadi kamu mau hadiah apa sayang?”
Itu kata ibunya, tak sabar. Ia harus bergegas menuju bandara. Ada penerbangan yang harus ia tempuh sebentar lagi. Jadi yang pasti ia akan berada di rumah lagi kira-kira seminggu kemudian (mungkin). Cyril pernah memelototinya ketika Cyara protes untuk Mamanya.
“Konyol Cyara,” bentak Cyril, “Dan klise. Seolah semuanya akan baik jika Mama sering di rumah. Kehidupan kita sekarang harus ada konsekuensinya. Dan menurutku itu sebanding.”

Dan Papanya lebih ajaib lagi. Kadang-kadang dua atau tiga bulan Cyara baru bisa bertemu dengannya lagi.
“Selamat,” katanya ketika ia kebetulan pulang pada hari ulang tahun Cyril. “Kamu masih ingin tinggal disini atau ingin Papa pilihkan apartemen?”

Oo… Cyril tidak akan mau. Ia tidak akan terlayani seperti di rumah. Lagipula selama ini Cyril sering tidak pulang. Ia sudah punya tempat tersendiri di luar. Mungkin itu tempatnya Evan, Cyara tidak tahu.

Lalu Cyara menjadi bingung ketika pada hari ulang tahunnya yang keenam belas dan ia memberitahu ibunya bahwa ia berulang tahun, ibunya bertanya apakah Cyara menginginkan sesuatu.
Cyara menggeleng, menjawab, ”Tidak tahu.”
Segalanya ada. Apa lagi yang ia butuhkan?
Hal itu membuat ibunya menjadi marah, “Lalu untuk apa kamu beritahu aku?” bentaknya. “Kenapa sih kamu tidak seperti kakak-kakakmu?”

Ya, itu menjadi pertanyaan juga untuk Cyara. Kenapa ia tidak seperti kakak-kakaknya. Berulangkali Cyril mengatakan bahwa ia aneh dan tidak masuk akal.

“Sok suci,” kata Kris, kakak tertuanya suatu kali kepadanya. Kris sering berurusan dengan polisi gara-gara narkoba ataupun perkelahian di luar batas. Tetapi Kris kebal hukum karena semua orang sepertinya memandang ayahnya, dan para penegak hukum itu bisa berbalik menjadi teman Kris.
“Semua wajar dan sudah tersistem, entah kamu ini naïf atau goblok jadi kamu tidak bisa paham itu semua,” kata Kris datar.

Dan tidak hanya di rumah, di sekolah pun Cyara dianggap aneh.
“Masa sih kamu tidak mau mencontek Cyara?” tanya Prita teman sebangkunya. Sering sekali ia bertanya tentang hal itu setiap kali mereka mendapat ulangan.
“Itu curang kan?”
Prita benar-benar jengkel pada Cyara.

Cyara adalah satu-satunya anak yang tidak menyumbang untuk Pak Sutejo agar nilai Fisikanya bisa dapat angka tujuh, dan ia bukan termasuk kelompok manapun di sekolahnya yang selalu saling gencet dan menjatuhkan.

Ia salah satu siswi yang tidak mau diajak “jalan” oleh Oom-oom seumuran ayahnya seperti yang diceritakan Mira seolah-olah hal itu adalah hal biasa juga.

Suatu kali Cyara menangis dan merasa dadanya sakit ketika pulang sekolah harus melewati perkampungan kumuh.
“Jangan cengeng Cyara, kita tidak mungkin disebut berada kalau tidak ada mereka.” Itu komentar Cyril. Ia melemparkan pandangan menghina pada mereka dan pandang tak suka pada Cyara.

Tidak ada yang menyukai Cyara, baik keluarganya maupun teman-teman sekolahnya. Bahkan guru-guru di sekolahnya menganggap ia anak yang terlalu muluk-muluk dan mengada-ada. Bahkan ia sering dianggap tidak ada.
Cyara sedih. Pernah ia membaca tentang dongeng seekor anak itik yang tersesat di tengah-tengah kumpulan angsa. Mungkin ia adalah anak itik itu. Apa yang salah pada dirinya? Semakin hari ia semakin merasa sedih dan sengsara.

Menjelang ulang tahunnya yang ketujuh belas, Cyara sering merasa sakit di seluruh badannya. Perasaannya pun menjadi lebih peka. Kesedihan dan penderitaan orang lain bisa menjadi miliknya. Tidak ada yang tahu. Ia terkucil dari semua orang.

Lalu ia menjual semua barang berharga pemberian ibunya. Uang yang ia kumpulkan dari hasil penjualan itu ia belikan sembako lalu ia bagikan kepada orang-orang yang tinggal di perkampungan kumuh. Namun apa yang terjadi? Orang-orang itu menjadi sangat liar dan terlihat sanggup membunuh tetangganya sendiri hanya untuk mendapat lebih banyak bagian.

Perasaan Cyara menjadi lebih sakit. Karena tak tahan, Cyara menceritakan hal itu kepada ibunya yang kebetulan sedang berada di rumah. Ibunya mulai menangis histeris dan menjerit marah,
“Yang kamu lakukan itu perbuatan goblok! Masuk kamar dan jangan keluar sebelum kusuruh. Aku tidak tahu aku ini melahirkan anak apa.”

Sakit di badannya semakin menjadi-jadi. Kini punggung Cyara sakit. Rasanya seperti ada sesuatu yang akan melesak, ingin keluar dari tubuhnya. Ia menelungkup di tempat tidurnya, merasakan nyeri yang tak kunjung reda. Kepalanya seperti diputar-putar dan Cyara seolah-olah melihat adegan ketika ia baru dilahirkan. Ketika ia bersama keluarganya. Cyara di sekolah, di perkampungan kumuh….

Punggungnya semakin sakit tak tertahankan. Rasa dingin membekukan menjalari seluruh tubuhnya. Lalu pukul 24.00 tepat, usianya tujuh belas sekarang.
Sesuatu mencuat dari punggungnya, bersamaan dengan munculnya kehangatan yang merambati kakinya. Mula-mula kecil, lama-lama semakin besar dan mengembang membentuk sayap. Setelah terbentuk sempurna, tiba-tiba seluruh rasa sakit yang dideritanya hilang. Berganti kebahagiaan, rasa suka cita. Tidak ada kekhawatiran lagi.

“Oh!” serunya ketika tubuhnya mulai terangkat. Sayapnya terkepak dan perlahan ia mulai meninggalkan segala yang ada di bawahnya sampai semuanya mengecil. Lalu ia bertemu dengan teman-temannya. Yang punya sayap sepertinya, yang peka dan punya kasih sayang begitu besar dalam dirinya.
Tahulah ia siapa dirinya. Anak itik yang tersesat, persis dalam dongeng itu. Tak mungkin ia salah satu diantara mereka yang begitu jahat, tamak, kotor dan tidak punya hati Nurani.

“Ayo Cyara,” seru seseorang diantara mereka, tersenyum. “Apa yang membuatmu tertahan begitu lama?”

Cyara tertawa bahagia dan melesat lebih tinggi menyusul kawanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.