NYANYI SUNYI

November 26, 2009

Bagian I

Sialnya aku mencintainya. Pada mahluk yang setengah hati, setengah jiwa dan setengah pikirannya berada bersamaku, sedangkan sisanya mengembara ke suatu tempat yang tidak mungkin bisa kusambangi. Jika aku bertanya dengan naluri keperempuananku apakah dia mencintaiku, maka ia akan menjawab Ya. Dengan naluri pula aku menebak ia berbohong. Matanya tidak berbicara padaku. Dan aku kembali melayang-layang di udara. Merasa tidak berbobot dan berjiwa.

Sudah empat tahun lewat empat bulan aku bersamanya. Mengarungi kehidupan bersamanya seperti melesak ke sebuah lubang gelap yang aku tidak pernah bertemu muka dengan dasarnya. Hanya karena tanganku masih menggapai-gapai di permukaannya. Masih meminta pengharapan dan menginginkan perubahan. Aku milikmu bukan? Seperti yang sering ia katakan di media massa. Apakah kamu mencintaiku? (lagi dan lagi).  Mengapa kamu perlakukan aku seperti aku ini tidak ada?

Aku lebih baik menelan muntahanku sendiri dibanding melontarkan pertanyaan penuh tuntutan seperti itu. Tapi aku berhak mengajukannya bukan? Aku berhak! Sehingga kemudian dengan berurai air mata selalu kutanyakan hal itu setiap kesempatan itu ada. Namun ia tidak tersentuh. Beku. Dan kebekuan itu tidak tercairkan meski dengan kukatakan, Aku mencintaimu, kamu tahu itu kan? Pertama dengan volume yang teramat pelan kemudian berubah menjadi teriakan. Teriakan putus asa yang aku tahu akan berujung pada keletihan luar biasa.

Selalu kuketuk pintunya. Mengingatkannya bahwa ada sepotong jiwa yang ingin meringkuk di dasar hatinya ingin terlindungi. Jariku sudah terluka sayang. Sudah kukeluarkan segenap tenagaku tapi ia masih saja tertutup rapat. Aku ingin pulang, aku ingin pergi,  aku ingin hilang. Jalinan kata itu tertahan di tenggorokanku tanpa aku punya kemampuan untuk menyemburkannya.

Hanya karena sorot matanya yang mampu membuat seluruh tubuhku gemetar meneriakkan cita-cita kebahagiaan. Hanya karena setitik cahaya yang terkadang ia tebarkan sehingga seolah-olah akan menarik tanganku keluar dari kehampaan. Hanya karena aku takut akan kehilangan esensinya.

Bagian II

Kemudian aku telah bertemu dengan batas toleransiku. Sehingga kuputuskan untuk mengikuti aliran air pada garis nasib di tanganku mulai hari ini. Aku telah mencapai puncak keletihanku sehingga aku tersenyum pada dunia. Dunianya. Dengan aku bak boneka selama ini berada di sampingnya dengan penuh kerelaan. Kerlip lampu dan berondongan pertanyaan bagaikan desingan peluru yang memenuhi otakku hanya dengan satu tekad. Aku ingin terbebaskan!

Dan pagi itu merambat seperti jalinan tumbuhan yang mengharap membubung ke angkasa.  Aku ikut merentangkan tanganku sampai kemudian kehangatan matahari mengaliri jari tanganku. Aku masih ingin merasakan kehangatan itu di ujung jariku sayang… Itu sebabnya aku mengepak semua barang-barangku. Hanya milikku. Akan kukepakkan sayap agar bisa kukendalikan diriku seutuhnya, bukan menjadi bayangannya. Pun jika aku mati.

Aku ingin pulang, aku ingin pergi, aku ingin hilang. Tak pernah kusemburkan kata-kata itu padanya, tapi aku melakukannya.

Bagian III

Satu tahun lewat dua bulan. Senja berwarna teramat kemerahan sehingga aku melindungi kedua mataku dari pusara yang menaungi tubuh tempatnya terbaring. Tak ada air mata untuknya. Hanya ada rasa dingin yang menghinggapi setiap sel dan pori di sekujur badanku seolah aku ikut merasakan kebekuannya. Sekarang dunianya menjadikan aku tertuduhnya. Baru kutahu ia teramat menderita dan kesepian ketika aku pergi dari kehidupannya. Rasa ketergantungan eh? Gelombang kelesuan merasuki kehidupannya dan karirnya berada di jurang kehancuran. Aku membaca koran pagi. Ia membubuhkan arsenik pada sarapan paginya!

Sudah berulang kali kukatakan padanya bahwa aku hanya ingin diperlakukan dengan baik dan semestinya. Semestinya orang yang saling mencintai. Aku hanya ingin seperti itu saja. Itu tidak akan terlalu sulit baginya kan? Iya kan? Semuanya sudah terlambat sayang….

Nyanyi sunyi mengalir lalu mengambang di udara. Tapi aku mendengarnya. Aku tahu mereka akan hinggap di punggungku sekarang. Dan mereka tak akan hilang sampai aku membeku di duniaku.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.